PENGARUH
GAS KARBONDIOKLSIDA (CO2) DAN GAS METANA (CH4) DALAM PENINGKATAN EFEKTIVITAS GLOBAL WARMING
2.1. Atmosfer
Udara merupakan bagian dari
atmosfer yang berisi Oksigen yang diperlukan oleh manusia, hewan,
tumbuh-tumbuhan, dan jasad hidup yang lain. Atmosfer juga merupakan
Karbondioksida yang sangat diperlukan oleh tumbuh-tumbuhan dan merupakan
penyumbang uap air. Para ilmuwan menduga 95% kehidupan di bumi disokong oleh
atmosfer yang tebalnya kurang dari 2 mil.
Bagian yang menjadi perhatian adalah
lapisan atmosfer paling bawah, yaitu troposfer dan stratosfer yang berisi udara
dan langsung berhubungan dengan kehidupan manusia dan makhluk lainnya dengan
segala aktivitasnya. Udara merupakan campuran dari beberapa macam gas yang
sangat diperlukan bagi kehidupan. Diantaranya, yaitu gas nitrogen sebanyak
78,084%, gas oksigen 20,9476%, karbondioksida, uap air, hidrogen, dan ozon.
Oksigen yang sangat esensial bagi
jasad hidup untuk memperoleh energi biologis, yaitu sebagai bahan bakar dalam
jaringan tubuh. Karbondioksida memegang peranan penting bagi proses
fotosintesis tumbuh-tumbuhan, pengatur pernapasan, dan mengatur sistem bufer
dalam darah. Pada umumnya komponen udara itu sangat penting bagi proses
kehidupan.
Udara yang bersih dan
segar mempunyai susunan seperti berikut:
No
|
Komponen
|
%
Volume
|
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
|
Nitrogen
Oksigen
Argon
Karbon
dioksida
Neon
Helium
Metan
Kripton
Belerang
dioksida
Hidrogen
Nitrogen
monoksida
Xenon
Ozon
Nitrogen
dioksida
Iodin
Karbon
monoksida
|
78,0840
20,9476
0,9430
0,0314
0,001818
0,000524
0,0002
0,000114
0,0001
0,00005
0,00005
0,0000087
0,000007
0,000002
0,000001
0,1-0,2
ppm
|
2.2. Karbondioksida (CO2) dalam Kehidupan
Gas CO2 merupakan gas yang tidak berwarna,
tidak berasa dan tidak merangsang, sumber gas CO2 terutama berasal dari proses pembakaran
minyak bumi, batu bara dan gas alam.
Selama manusia masih menggunakan
bahan bakar kayu, pertambahan kadar gas Karbondioksida di udara dapat
diabaikan. Sampai pada tahun 1960, di daerah-daerah yang belum ada industri,
kadar gas Karbondioksida di udara hanya 300 ppm. Dengan adanya kemajuan
industri dengan bahan bakar batu bara dan minyak bumi serta gas alam atau liquefied natural gas
(LNG), kadar gas Karbondioksida di udara meningkat menjadi 320 ppm.
Dengan adanya laju pertumbuhan
penduduk maka berbagai kebutuhan manusia bertambah, misalnya makanan,
perumahan, penerangan, dan tranportasi. Hal itu berarti pengadaan pupuk, agro
industri, tenaga listrik, dan industri tranportasi semakin meningkat, sehingga
kebutuhan bahan bakar juga semakin meningkat. Akibatnya, produksi
Karbondioksida makin banyak mencemari udara di daerah industri.
2.3. Metana
(CH4) dalam Kehidupan
Gas alam terdiri dari alkana suku
rendah, yaitu metana, etana, propana, dan butana. Dengan metana sebagai
komponen utamanya. Metana terutama digunakan sebagai bahan bakar, sumber
hidrogen, dan untuk pembuatan metanol. Dari berbagai macam gas ini mereka
nantinya akan menimbulkan efek rumah kaca (Greenhouse
Effect) jika digunakan secara berlebihan dan juga karena terlalu padatnya
jumlah dan pertumbuhan penduduk. Metana merupakan bagian terbesar dari gas alam
dan Indonesia merupakan salah satu penghasil utama gas alam, terutama dari
ladang gas Bontang (Kalimantan) dan ladang gas Arun (Aceh).
- Metana
dapat ditemukan pada kotoran hewan seperti sapi, kambing, domba, babi,
unggas
- Selain
pada kotoran, hewan memamah biak juga menyuplai gas
metana melalui proses sendawa
- Metana
juga ditemukan pada kotoran manusia
- Gas
elpiji yang kita gunakan juga mengandung gas
metana
- Metana
terdapat pada sampah-sampah organic setelah dilakukan perombakan oleh
bakteri (beberapa industry memanfaatkan sampah organic untuk mengisolasi
gas metana ini sebagai alternatif pengganti energy berbahan
dasar fosil, termasuk isolasi
gas metana dari kotoran hewan ternak )
- Metana
dapat terbentuk melalui proses pembakaran biomassa atau rawa-rawa (proses
alam seperti biogenic, termogenik, dan
abiogenik)
- Lahan
gambut juga bisa menghasilkan gas metana.
Selain
di atas, di daerah-daerah tertentu juga diketahui mengandung metana dalam
jumlah yang sangat besar (3000 kali jika dibandingkan dengan gas metana yang
ada di atmosfer sekarang), tetapi dalam bentuk hidrat, seperti:
- Bagian
barat Siberia (Danau Baikal) memiliki daerah kolam berlumpur seluas
Prancis dan Jerman yang beku oleh es abadi. Di daerah ini mengandung tidak
kurang dari 70 miliar ton metan
hidrat
- Daerah
antartika menyimpan kurang lebih 400 miliar
ton metana dalam bentuk hidratnya
- Gas
metana juga ditemukan terperangkap pada lantai samudra di kedalam 1000
kaki dengan jumlah yang sangat banyak, biasa disebut sebagai metan clathrate
2.4. Pemanasan Global (Global Warming)
Pusat Pegelolaan Ekoregion Sumatera
dalam Suara Bumi mengemukakan bahwa Pemanasan global adalah kejadian
meningkatnya suhu rata-rata atmosfer, laut dan daratan bumi akibat menumpuknya
gas rumah kaca (GRK) – antara lain karbondioksida, metanan, dinitrooksida,
sulfurheksafluorida, perfluorokarbon, hidrofluorokarbon – di admosfir. Ketika
atmosfer semakin kaya akan gas-gas rumah kaca, ia akan menjadi isolator yang
menahan lebih banyak panas matahari yang dipancarkan ke bumi. Pemanasan global
terjadi karena bumi menyerap lebih banyak energi matahari daripada jumlah
energi yang dileas kembali ke angkasa.
Isu pemanasan global sering
dibicarakan dan menjadi bahasan yang menarik baik dari skala kecil maupun
tingkat internasional yang sampai saat ini belum ada kejelasan penanganannya.
Aktor utama dalam pemanasan global ini tentu saja manusia yang seakan-akan
tidak peduli dengan lingkungan yang ada di sekitarnya. Mereka hanya mencari
keuntungan yang sebesar-besarnya tanpa memikirkan dampak yang akan terjadi.
Pemanasan global atau sering juga kita sebut Global Warming akhir-akhir ini
sudah semakin ekstrim. Pemanasan global telah menjadikan iklim semakin tidak
menentu dan sangat ekstrim. Secara umum pemanasan global didefinisikan sebagai
meningkatnya suhu permukaan oleh gas rumah kaca yang terjadi akibat aktivitas
manusia.
Seperti yang kita ketahui segala sumber yang ada di bumi itu semuanya
berasal dari matahari. Sebagian besar energi tersebut dalam bentuk radiasi
gelombang pendek, termasuk cahaya tampak. Ketika energi ini mengenai permukaan
bumi, ia akan berubah dari cahaya menjadi panas yang menghangatkan bumi. Dan
disinilah permukaan bumi akan menyerap panasnya dan memantulkan kembali sisanya
sebagai radiasi inframerah gelombang panjang ke luar angkasa. Namun, sebagian
tetap teperangkap di permukaan bumi akibat menumpuknya gas rumah kaca yang
menjadi perangkap gelombang radiasi ini. Gas-gas ini menyerap dan memantulkan
kembali radiasi gelombang yang dipancarkan bumi dan akibatnya panas tersebut
akan tersimpan di permukaan bumi. Hal tersebut terjadi secara berulang-ulang
dan mengakibatkan suhu rata-rata bumi terus meningkat.
Menurut Framework Convention on
Climate Change (UNFCCC) yang termasuk gas rumah kaca diantaranya: CO2, NO2, CH4, SF6, PFCS, dan HFCS. CO2, NO2,
CH,4 sebagian besar dihasilkan dari bahan bakar fosil baik
dari sektor industri maupun transportasi. Sementara SF6, PFCs, HFCs
sebagian besar mearupakan hasil pembakaran aerosol. Gas-gas ini
menyumbang kurang dari 1%, tetapi tingkat pemansannya lebih tinggi di
bandingkan dengan CO2, NO2, CH4 . Sebenarnya
efek rumah kaca ini sangat dibutuhkan oleh makhluk hidup yang ada di bumi
karena tanpanya bumi ini akan terasa dingin akan tetapi gas-gas yang
menimbulkan rumah kaca itu telah berlebihan beredar di permukaan bumi yang mana
nantinya gas-gas ini akan menyebabkan Global Warming.
2.4.1.
Dampak
Pemanasan Global
Pusat Pegelolaan Ekoregion Sumatera
dalam Suara Bumi memperkirakan bahwa pemanasan global diperkirakan menyebabkan
terjadinya kenaikan suhu bumi rata-rata sebesar 1°C pada tahun 2025 dibanding
suhu saat ini atau sekitar 2°C lebih tinggi dari zaman pra industri.
Peningkatan dampak tersebutmenimbulkan dampak sebagai berikut :
2.4.1.1.
Cuaca
Diperkirakan daerah bagian utara dan bumi bagian
utara akan memanas lebih dari daerah-daerah lain di bumi. Akibatnya,
gunung-gunung es akan mencair dan daratan akan mengecil. Daerah-daerah yang
sebelumnya mengalami salju ringan, tidak akan mengalaminya lagi. Musim tanam
akan lebih panjang di beberapa area.
Daerah hangat akan menjadi lebih lembab karena lebih
banyak air yang menguap dari lautan. Para ilmuwan belum begitu yakin apakah
kelembaban tersebut akan meningkatkan atau menurunkan pemanasan global. Namun
uap air yang lebih banyak juga akan membentuk awan yang lebih banyak, sehingga
akan memantulkan cahaya matahari ke angkasa luar, dimana hal ini akan
menurunkan pemanasan global.
Beberapa daerah dengan iklim yang hangat akan
menerima curah hujan yang lebih tinggi, tetapi tanah juga akan cepat kering
karena air akan jadi lebih cepat menguap dari tanah. Akibatnya banyak wilayah
yang selama ini kering akan semakin kering dimasa mendatang dan sebaliknya
berbagai tempat yang basah akan menjadi basah pula. Kesenjangan distribusi air
secara alami ini akan berpotensi menimbulkan konflik kepentingan dalam
pemanfaaatan air untuk industri, pertanian, dan kehidupan penduduk dunia.
Naiknya suhu udara dipermukaan bumi juga akan memicu badai topan dengan kekuatan
dahsyat. Angin akan bertiup lebih kencang dan mungkin dengan pola yang berbeda.
Pola cuaca akan menjadi ekstrim dan tidak dapat diprediksi.
2.4.1.2.
Tinggi
Permukaan Laut
Ketika
atmosfer menghangat, lapisan permukaan lautan juga akan menghangat sehingga
volumenya akan membesar dan menaikkan tinggi permukaan laut. Pemansan juga
mencairkan banyak es di kutub yang lebih memperbanyak volume permukaan air
laut.
Perubahan tinggi permukaan laut akan sangat
mempengaruhi kehidupan di daerah pantai. Beberapa wilayah dan pulau akan
tenggelam. Erosi tebing, pantai dan bukit pasir akan meningkat. Ketika tinggi
laut mencapai muara sungai, banjir akibat air pasang meningkat di daratan.
Resiko terbesar adalah dataran rendah yang padat penduduk dengan kapasitas
beradaptasi yang rendah serta kehidupan yang sangat tergantung dengan sumber
daya yang mudah terpengaruh oleh iklim, seperti persediaan air dan makanan.
Penduduk yang paling banyak terancam berada di delta-delta besar di asia dan
afrika, namun yang paling rentan adalah penduduk dipulau-pulau kecil.
2.4.1.3.
Pertanian
Orang mungkin beranggapan bahwa bumi yang hangat
akan menghasilkan lebih banyak makanan dari yang sebelumnya, tetapi sebenarnya
hal ini tidak sama di beberapa tempat. Bagian selatan kanada, sebagai contoh,
mungkin akan mendapat keuntungan dari lebih tingginya curah hujan dan lebih
lamanya masa tanam. Di pihak lain, kekeringan tanah akan merusak tanaman bahkan
menghancurkan suplai makanan, seperti pada lahan pertanian tropis semi kering
di beberapa bagian afrika.
Diperkirakan
produktivitas pertanian di daerah tropis akan mengalami penurunan bila terjadi
kenaikan suhu rata-rata global antara 1-20 C sehingga meningkatkan
resiko bencana kelaparan. Meningkatnya frekuensi kekeringan dan banjir akan
memberikan dampak negatif pada produksi lokal, terutama pada sektor penyediaan
pangan didaerah subtropis dan tropis. Peningkatan suhu regional juga akan
memberikan dampak negatif kepada penyebaran dan reproduksi ikan.
2.4.1.4.
Hewan
dan Tumbuhan
Hewan dan tumbuhan paling sulit menghindar dari efek
pemanasan ini kareana sebagian besar lahan telah dikuasai manusia. dalam
pemansan global, hewan cenderung untuk bermigrasi ke arah kutub dan ke atas
pegunungan yang lebih dingin. Tumbuhan akan mengubah arah pertumbuhannya,
mencari daerah baru karena habitat lamanya menjadi terlalu hangat.
Akan
tetapi, pembangunan manusia akan menghalangi perpindahan ini. Spesies-spesies
yang bermigrasi ke utara atau ke selatan yang terhalangi oleh kota-kota atau
lahan-lahan pertanian mungkin akan mati. Beberpa spesies yang tidak mampu
berpindah akan musnah.
Kemungkinan 20-30% spesies tanaman dan hewan akan
punah bila terjadi kenaikan suhu rata-rata global sebesar 1,5-2,50C.
Menigkatnya tingkat keasaman laut karena bertambahnya karbondioksida di
atmosfer juga akan membawa dampak negatif pada organisme-organisme laut seperti
terumbu karang serta spesies-spesies yang hidupnya bergantung pada organisme
tersebut.
2.4.1.5.
Perubahan
Iklim dan Bencana Lingkungan
Pemanasan global akan mengakibatkan
perubahan iklim yang bisa menjelma menjadi bencana lingkungan dan ekonomi yang
berujung pada tragedi kemanusiaan. Dampak paling parah banyak terjadi di asia.
Para ilmuwan mengingatkan bahwa setiap kenaikan suhu sebesar 20C
akan langsung menurunkan produksi pertanian di cina dan bangladesh hingga 30%
pada tahun 2050. Tragedi ini aakn dihadapi oleh penduduk asia lainnya.
Diperkirakan sekitar 100 juta
penduduk asia yang tinggal di wilayah pesisisr akan tergenang karena proses
peningkatan laut setinggi 3 mm setiap tahun. Permukaan air laut meningkat 7-23
inchi di akhir abad yang lalu dan mengancam daerah kawasan pantai dan
menimbulkan badai dan angin topan. Liam negara di asia yang paling terancam
dampak dari perubahan iklim adalah cina, bangladesh, india, vietnam, dan
indonesia.
Sebagai negara kepulauan, indonesia
menjadi negeri paling rentan terhadap berbagai dampak ekstrim perubahan iklim
yang diakibatkan pemanasan global ini. Tanda-tanda perubahan itu bahkan telah
lama dirasakan. Gelombang pasang dan angin puting beliung yang menerjang berbagai
wilayah diakui sebagai dampak perubahan iklim.
Di prediksi pada tahun
2030 permukaan air laut akan naik setinggi 28 cm dari saat ini. Bersamaan
dengan itu diperkirakan pula 4.000 dari 17.500 pulau di indonesia terancam
tenggelam, bila proses pemanasan global tidak segera dihentikan. Perubahan
iklim juga berdampak pada berbagai sektor lain. Beberapa tahun sebelumnya kita
telah merasakan beberapa kali musim kemarau yang lebih panjang dari tahun-tahun
sebelumnya. Kemarau telah menyebabkan ribuan hektare sawah menjadi puso dan
produksi pangan nasional anjlok drastis. Lebih dari itu, perubahan iklim juga
telah mengakibatkan kebakaran hutan secara beruntun. Celakanya 80 % kebakaran
hutan tersebut terjadi di lahan gambut, yang dikenal sebagai “penyerap” emisi
karbon terbesar di dunia. Akibatnya, kebakaran itu telah melepas 2,5 miliar ton
karbon ke atmosfer bumi. Sebuah konstribusi yang luar biasa atas total karbon
yang dilepaskan oleh bumi sekitar 18,5 miliar ton per tahun yang ironisnya
justru ikut memicu proses pemanasan global.
2.4.1.6. Pengaruh Pemanasan Global
Bagi Kesehatan Manusia
Pemanasan global tidak
hanya berdampak serius terhadap lingkungan manusia, namun juga pemanasan global
berpengaruh besar bagi kesehatan manusia. WHO dalam pertemuan tahunan di Genewa
mengatakan bahwa berbagai penyakit infeksi yang timbul diidentifikasi terkait
dengan perubahan lingkungan hidup yang drastis. Kerusakan hutan, perluasan
kota, pembukaan lahan pertanian, pertambangan serta kerusakan ekosistem memicu
munculnya patogen lama maupun baru. Berbagai penyakit yang ditimbulkan parasit
juga meningkat terutama di daerah yang sering mengalami kekeringan dan banjir.
a.
Malnutrisi mengakibatkan kematian
3,7 juta jiwa pertahun, diare mengakibatkan kematian 1,9 juta jiwa pertahun,
dan malaria mengakibatkan kematian 0,9 juta pertahun.
b.
Suhu yang lebih panas juga
berpengaruh pada produksi makanan , ketersedian air dan penyebarab vektor
penyakit. WHO mengingatkan bahwa pemanasan global akan banyak berdampak pada
kesehatan masyarakat dan lingkungan. Perubahan temperatur dan curah hujan yang
ditimbulkan akan memberikan kesempatan bagi berbagai virus dan bakteri untuk
tumbuh menjadi luas.
c.
Kekeringan mengakibatkan penurunan
status gizi masyarakat karena panen yang terganggu, banjir menyebabkan
meluasnya penyakit diare serta leptospirosis.
d.
Kebakaran hutan dapat mengusik
ekosistem bumi, menghasilkan gas-gas rumah kaca yang meningkatkan pemanasan
global. Sedangkan asap hitamnya menganggu secara langsung kehidupan manusia,
asap yang mengandung debu halus dan berbagai oksida karbon itu menyebabkan
gangguan saluran pernapasan dan gangguan saluran pernapasan akut (ISPA), asp
tersebut juga akan menimbulkan gangguan kehamilan, gangguan paru serta
kemandulan bagi wanita.
e.
Pada suhu yang panas manusia
rentan terkena ISPA,
dan meningkatnya penyakit menular.
f.
Dampak pemanasan global juga
mempengaruhi penipisan ozon antara lain meningkatnya intensitas sinar
ultraviolet yang mencapai permukaan bumi menyebakan gangguan kesehatan seperti:
kanker kulit, katarak, penurunan daya tahan tubuh, dan pertumbuhan mutasi gen,
memperburuk penyakit-penyakit umum asma dan alergi, meningkatkan kasus
kardiovaskular kematian yang disebabkan penyakit jantung dan stroke serta
gangguan jantung dan pembuluh darah.
g.
Selain itu WHO juga mengatakan
bahwa suhu udara yang tinggi akan menyebabkan alergi dan ada 35 jenis penyakit
baru yang muncul akibat perubahan iklim, diantaranya ebola, flu burung, dan
lain-lain.
2.4.2.
Pengaruh
Gas CO2 Terhadap Pemanasan Global
Adanya gas CO2 yang berlebihan di
udara atau di atmosfer tidak berakibat langsung kepada manusia. Tetapi CO2
membentuk lapisan transparan (tembus pandang) di atmosfer yang mengisolasi di
sekililing bumi. Hal itu yang mengakibatkan suhu udara di bawah lapisan gas CO2
dan dipermukaan bumi semakin tinggi, sehingga akan mempengaruhi makluk hidup.
Sifat gas CO2 seperti diatas itu dikenal dengan istilah efek rumah kaca atau green house effect.
Sebenarnya, Karbondioksida tidak
berbahaya bagi manusia. akan tetapi, karbondioksida tergolong gas rumah kaca,
sehingga peningkatan kadar karbondioksida di udara dapat mengakibatkan
peningkatan suhu permukaan bumi. Peningkatan suhu karena meningkatnya kadar
gas-gas rumah kaca di udara disebut pemanasan
global. Pemanasan global dapat
mempengaruhi iklim, mencairkan sungkup es di kutub dan berbagai rangkaian
akibat lainnya yang mungkin belum sepenuhnya dimengerti.
Sifat gas Karbondioksida seperti
dikemukan di atas itu dikenal dengan istilah efek rumah kaca atau green house effect . selain itu, ada
beberapa kegunaan gas Karbondioksida diantaranya yaitu untuk fotosintesis
tumbuhan yang mana dalam melakukan
fotosintesis ini diperlukan adanya bantuan sinar ultraviolet dari sinar
matahari. Zat yang di hasilkan dalam proses ini adalah zat tepung dan gas
Oksigen yang sangat berguna bagi kehidupan makhluk hidup yaitu manusia, dan
tumbuh-tumbuhan untuk pernapasan.
Jadi, untuk mengurangi jumlah gas Karbondioksida di atmosfer perlu
diadakannya penghijauan, yaitu menanam pohon, memperbanyak taman kota,
memperluas hutan konservasi serta pengelolaan hutan dengan sistem tebang tanam.
2.4.3.
Pengaruh Gas Metana (CH4) Terhadap
Pemanasan Global
Dari segi lingkungan tidak salah lagi, gas metana menjadi salah satu penyebab
pemanasan bumi sehingga berdampak pada perubahan iklim. Tentunya sangat
membahayakan bagi tatanan kehidupan yang ada di planet kita. Metana adalah gas
dengan emisi gas
rumah kaca 23 kali lebih ganas dari karbondioksida (CO2),
yang berarti gas ini kontributor yang sangat buruk bagi pemanasan global yang
sedang berlangsung. Berita buruknya adalah pemanasan
global membuat suhu es di kutub utara dan kutub selatan menjadi
semakin panas, sehingga metana beku yang tersimpan dalam lapisan es di kedua
kutub tersebut juga ikut terlepaskan ke atmosfer. Para ilmuwan memperkirakan
bahwa Antartika menyimpan kurang lebih 400 miliar ton metana beku, dan gas ini
dilepaskan sedikit demi sedikit ke atmosfer seiring dengan semakin banyaknya
bagian-bagian es di antartika yang runtuh. Anda bisa membayangkan betapa
mengerikannya keadaan ini: Bila Antartika kehilangan seluruh lapisan esnya,
maka 400 miliar ton metana tersebut akan terlepas ke atmosfer! Ini belum
termasuk metana beku yang tersimpan di dasar laut yang juga terancam mencair
karena makin panasnya suhu lautan akibat pemanasan global.
Sekali terpicu, siklus ini akan menghasilkan pemanasan global yang sangat parah sehingga mungkin dapat mematikan sebagian besar mahluk hidup yang ada di darat maupun laut. Saya kurang pasti juga, tapi kalau dilihat dari satelit, kondisi benua antartika, dan Greenland; es yang ada di sana dari tahun ketahun semakin berkurang dengan kecepatan mencair lebih dari yang diprediksikan para ilmuan.
Sekali terpicu, siklus ini akan menghasilkan pemanasan global yang sangat parah sehingga mungkin dapat mematikan sebagian besar mahluk hidup yang ada di darat maupun laut. Saya kurang pasti juga, tapi kalau dilihat dari satelit, kondisi benua antartika, dan Greenland; es yang ada di sana dari tahun ketahun semakin berkurang dengan kecepatan mencair lebih dari yang diprediksikan para ilmuan.
2.4.4.1. Mengatasi Dampak Pembakaran Bahan
Bakar Terhadap Lingkungan
a. Melarang
dan mengurangi penggunaan bensin yang mengandung timbal (Pb).
b. Pemeliharaan
alat pembakar, seperti knalpot kendaraan dan kompor rumah tangga sehingga
proses pembakaran llebih sempurna.
c. Memperhatikan
kualitas bahan bakar dengan menurunkan kadar Sulfur, sehingga pada saat
pembakaran mengeluarkan Sulfur Oksida lebih sedikit. Makin baik kualitas bahan
bakar makin baik daya bakarnya, sehingga akan mengurangi polusi.
d. Mengganti
bahan bakar dengan bahan bakar alternatif nonpetroleum, seperti metanol,
etanol, gas alam yang dimampatkan atau gas petroleum cair, dan hidrogen atau
baterai listrik, yang dapat menghapus pencemaran oleh pipa knalpot.
e. Mengosidasi
bahan bakar dengan menambahkan alkohol membentuk gasohol (bensin dan alkohol).
Bahan bakar ini terbakar lebih sempurna sehingga dapat menurunkan emisi karbon
monoksida.
f. Mengadakan
bahan bakar alternatif yang membakar lebih bersih dari bensin dan minyak diesel
yang berupa campuran yang berwawasan lingkungan. Campuran ini merupakan
formulasi ulang yang menurunkan daya penguapannya, sehingga menurunkan pula
daya emisi zat organik yang mudah menguap dan menurunkan konsentrasi benzen dan
komponen beracun lainnya.
g. Menggalakkan
penggunaan kendaraan dengan bahan bakar gas alam.
h. Memperbaiki
mutu kendaraan bermotor, diantaranya mengembangkan sarana untuk memanaskan
katalis sehingga mesin kendaraan dapathidup lebih cepat dan pencemaran
berkurang.
i.
Menggunakan tenaga baterai. Ada dua
keuntungan yang diperoleh dengan menggunakan tenaga baterai, yaitu pencemaran
asap dan karbon diaoksida akan terkurangi karena penghapusan pipa knalpot, dan
pencemaran karbon dioksida yang menyebabkan pemanasan global akan terkendali
dengan digantinya mesin pembakaran dalam (internal
combustion engine) oleh pembangkit tenaga sentral yang lebih efisien.
j.
Penggunaan turbin putar gabungan.
Penggunaan daya stasioner ini meliputi turben putar gabungan yang dihidupkan
dengan pembakaran gas. Alat ini dapat membangkitkan tenaga listrik dengan
mengurangi pencemaran udara sebesar 50-99% dibanding dengan sumber pembangkit
tenaga lain yang memakai bahan bakr.
k. Mamfaatkan
turbin angin dan sel tenaga matahari dengan tingkat pencemaran no.
l.
Melakukan penghematan berdasarkan pasar,
salah satunya adalah energi star komputer yang daya listriknya secara otomatis
akam melemah jika komputer tidak digunakan.
2.4.4.2.
Menetapkan Konsentrasi Gas Rumah Kaca
Untuk menghilangkan ancaman pemanasan global secara
menyeluruh, konsentrasi gas-gas rumah kaca harus dikurangi sampai tingkat masa
pra-industri. Ini merupakan tujuan yang saat ini tidak mungkin tercapai. IPCC
(Panel Antar-pemerintah tentang Perubahan Iklim) menghitung beberapa
penghematan yang diperlukan untuk mempertahankan tingkat emisi yang ada saat ini.
Data ini disajikan pada tabel 4 dan memperlihatkan bahwa
penghematan-penghematan tersebut harus drastis. Emisi karbon dioksida,
misalnya, harus turun 60 persen, yang berarti bahwa penggunaan bahan bakar
fosil untuk transportasi, industri dan listrik pada tingkat global harus
dikurangi sampai tingkat setengah.
Sebuah skenario, berdasarkan penelitian Dr.
Mick Kelly, Universitas East Anglia di Inggris, dirancang untuk menetapkan
konsentrasi gas rumah kaca tahun 2030 pada kadar sedikit lebih tinggi dari pada
kadar saat ini. Hal ini memerlukan perubahan mendasar. Beberapa ciri kuncinya
adalah sebagai berikut:
a.
Penghapusan produksi
chlorofluorocarbon sejak 1995 dan mungkin juga bahan-bahan penggantinya yang
mempunyai efek rumah kaca;
b.
Menghentikan penggundulan hutan
pada 2000, diikuti dengan penanaman kembali hutan-hutan secara intensif;
c.
Pengurangan emisi karbon dioksida
dari bahan bakar fosil sampai 30 persen dari kadar saat ini pada 2020;
d.
Pengurangan dalam peningkatan
konsentrasi tahunan metana dan dinitrogen oksida sampai 25 persen dari nilai
saat ini.
Semua perubahan-perubahan ini pun tidak akan menghapuskan
ancaman pemanasan global secara menyeluruh. Dalam mengidentifikasi
tindakan-tindakan yang dapat dilakukan untuk mengurangi emisi gas rumah kaca,
sebaiknya diikuti strategi ‘tanpa penyesalan’ atau ‘no regrets’ yang
dinyatakan pada 1990 oleh Menteri Ilmu Pengetahuan Australia, Barry Jones:
"Jika kita bertindak dan bencana
terhindarkan, maka kita mencegah penderitaan berat manusia. Jika kita bertindak
dan tidak ada masalah, maka kita tidak rugi melainkan mendapat keuntungan
berupa lingkungan yang lebih bersih. Jika kita tidak bertindak dan terjadi
bencana, akan ada tragedi global. Jika kita tidak bertindak dan tidak ada
bencana, akibatnya kita akan tergantung semata-mata pada
keberuntungan/nasib".
Tabel (4). Pengurangan Emisi yang Diperlukan untuk Menetapkan Konsentrasi Gas
Rumah Kaca pada Tingkat Sekarang
2.4.4.3.
Konservasi Energi
Banyak orang khawatir bahwa konservasi energi akan berarti
penurunan taraf hidup. Hal ini merupakan isu belaka. Justru konservasi energi
atau efisiensi penggunaan energi secara lebih baik sering dinyatakan sebagai
usaha pelestarian sumber energi dengan biaya murah. Di negara-negara maju,
potensi terbesar untuk penghematan terdapat pada sektor industri dimana
sebagian besar energi di konsumsi. Hal yang sama juga ada dalam sektor
industri, perdagangan dan rumah tangga kelas atas di negara-negara berkembang.
Sejumlah besar bahan bakar dapat dihemat pemakaiannya pada gedung-gedung
pencakar langit berdinding kaca di kota-kota besar beriklim tropis yang
membentuk sebuah rumah kaca raksasa, sehingga memerlukan biaya besar dari
pemilik dan penyewa untuk mendinginkan ruangan. Kesalahan ini tidak perlu
diulangi, bangunan-bangunan baru dapat dengan mudah dirancang untuk mengurangi
penyerapan panas. Konsumsi listrik untuk penerangan dapat dikurangi dengan
drastis melalui penggunaan lampu yang lebih efisien. Sebuah lampu neon kompak
18 watt yang dipasang di lubang lampu biasa dapat menghasilkan cahaya setara
dengan lampu biasa 75 watt. Selama masa pakai sekitar 10.000 jam, lampu ini
dapat mengurangi emisi lebih dari 0,5 ton karbon dioksida
(> 500 kg karbon dioksida)! Transportasi menggunakan sepertiga dari keseluruhan konsumsi bahan bakar minyak dunia. Pada 1993 terdapat sekitar 500 juta kendaraan di jalan-jalan raya dunia, sekitar 400 juta adalah mobil. Seluruh sektor transportasi memerlukan peningkatan dalam efisiensi. Mobil ‘peminum bensin’ buatan Amerika Serikat mempunyai angka konsumsi bahan bakar dua atau tiga kali lebih tinggi daripada mobil buatan Eropa atau Jepang. Peraturan perpajakan dan bea masuk untuk mencegah masuknya mobil yang boros, dapat membantu mengurangi emisi karbon dioksida sekaligus membantu negara-negara berkembang mengurangi beban impor bahan bakar minyak.
(> 500 kg karbon dioksida)! Transportasi menggunakan sepertiga dari keseluruhan konsumsi bahan bakar minyak dunia. Pada 1993 terdapat sekitar 500 juta kendaraan di jalan-jalan raya dunia, sekitar 400 juta adalah mobil. Seluruh sektor transportasi memerlukan peningkatan dalam efisiensi. Mobil ‘peminum bensin’ buatan Amerika Serikat mempunyai angka konsumsi bahan bakar dua atau tiga kali lebih tinggi daripada mobil buatan Eropa atau Jepang. Peraturan perpajakan dan bea masuk untuk mencegah masuknya mobil yang boros, dapat membantu mengurangi emisi karbon dioksida sekaligus membantu negara-negara berkembang mengurangi beban impor bahan bakar minyak.
2.4.4.4.
Penanaman Hutan
Menanam pohon bahkan pada skala besar sekalipun, tidak
dapat mengimbangi keseluruhan laju penambahan gas-gas rumah kaca ke atmosfer.
Walaupun demikian, peningkatan penanaman pohon oleh setiap negara akan
memperlambat penimbunan gas-gas rumah kaca.
2.4.5.
Pencegahan Pemanasan Global
Ataupun juga dapat dilakukan dengan
perubahan tingkah dan pola tingkahlaku kita yang sederhana sebagai pencegahnya,
seperti :
1.
Tas
belanja: setiap tahun sekitar 1.000.000 makhluk laut mati
akibatmemakan kantong dan smapah plastic yang di buang ke laut. Membawa tas sendiri saat
berbelanja, dan tidak menerima kantong plastic dapat mencegah emisi
karbondioksida sebanyak 25 kg.
2.
lebih baik menggunakan shower
dengar aliran rendah, di bandingkan dengan berendam air panas.
3.
Sampah
basah: hamper 1/3 dari limbah rumah tangga adalah sampah
dapur dan halaman. kurangi jumlah ini dengan memanfaatkan kulit buah dan sisa kupasan sayuran
untuk dijadikan kompos.
4.
Produk
local: membeli produk impor berarti menyumbang karbondioksida,yang
di keluarkan oleh pesawat atau kapal yang mengantar barang tersebut.
5.
Daur
ulang kaleng: sehabis menggunakan kaleng-kaleng makanan
atau minuman,
jangan langsung dibuang di tempat sampah. Mendaur ulang kaleng bekas dapat
mengurangi emisi gas rumah kaca hingga hampir 95% di bandingkan jika aluminium
di buat dari bahan mentah.
6.
Daur
ulang botol: sementara, untuk satu botol minuman kaca,
dapat menghemat energi, dan mencegah lepasnya 0,5 kg karbondioksida ke udara.
7.
Kertas
daur ulang: setiap ton kertas yang di daur ulang dapat menyelamatkan 15
pohon ukuran sedang, berikut habitat di sekitarnya. Mendaur ulang setengah
dari sampah kertas yang kamu buang setiap hari dapat mencegah 1200 kg
karbondioksida per tahun.
8.
AC
mobil: mematikan AC dan membuka kaca jendela, belum tantu
lebih hemat. Jika mobil dengan kaca terbuka berlari kencang, udara masuk akan menghambat laju
kendaraan, akibatnya akan memboroskan bahan bakar. Lebih baik turunkan suhunya
hingga 2 derajat celcius.
9.
Air
panas: setiap cangkir air yang dipanaskan, sama dengan 25
cangkir karbondioksida yang di lepas ke udara. Dengan merebus air secukupnya,
dalam setahun kamu mengurangi karbondioksida sebanyak 420 kg.
10.
Ban
mobil: jika tekanan udara dalam ban mobil kurang dari
normal, maka penggunaan bahan bakar akan menigkat sebanyak 5%.
11.
Lemari
pendingin: jika lemari pendingin di rumah sudah berusia 10
tahun, maka waktunya untuk mengganti yang baru. Dengan mengganti lemari es,
kamu menghemat energi untuk
menyalakan lampu di rumah mu slama kurang lebih 3 bulan, dan mencegah
karbondioksida hingga 140 kg serta mengurangi tagihan listrik.
12.
Lampu:
untuk menghemat energi, nyalakan lampu seperlunya saja.
Artinya matikan lampu yang tidak digunakan. Kamu telah mengurangi emisi karbon dioksida 370 kg
per tahun.
13.
Kabel:
mencabut kabel alat-alat elektronik yang tidak diperlukan,
emisi berkurang sebnyak 30 kg per tahun.
14.
Jalan
kaki: pergi dalam jarak dekat, sebaiknya tidak usah
menggunakan kendaraan bermotor, pilih jalan kaki atau naik sepeda, maka akan
menghemat sebanyak 2 kg karbondioksida.
15.
Cuci
baju: mesin cuci yang terisi maksimal atau penuh sesuai
batasnya, menggunakan lebih sedikit air di bandingkan dua kali mencuci setengah
penuh. Mesin cuci yang bekerja secara efisien dapat menghemat 1.500 liter air
per tahun
16.
Keringkan:
jika setelah dicuci, pakaian di jemur d bawah sinar
matahari, akan menghemat karbondioksida sebanyak 1,5 kg, bila di bandingkan
dengan mesin pengering.
17.
Tanam
pohon: setiap tahun pohon-pohon di hutan dapat menyerap
sebanyak 7 milyar ton karbondioksida. Jadi tanam lah pohon mu.
18.
Sampah
= uang: untuk 5 jenis sampah berikut, kaleng, kertas, botol kaca, botol plastic,
stainless steel dapat menguntungkan. Jual benda terebut ke pemulung yang akan
menyalurkan pada pabrik untuk di daur ulang, atau akn dipakai sendiri untuk di
jadikan barang berguna. Bonusnya uang extra dan rumah yang bebas dari
sampah.
19. Sampah organic: keunutngan
dari sampah organic adalah di gunakan unutk membuat biopori. Biopori
adalah lubang resapan air, lubang pada tanah digunakan untuk menimbun
sampanh organic. Sampah organic dapat menghidupi fauna tanah. Fungsinya meningkatkan
daya serap air pada tanah yang ditujukan untuk mengatasi banjir. Cara buatnya, gali lubang
berdiameter 10 cm dalam tanah sedalam 1 meter. Isi lubang tersebut dengan smpah organic setiap
hari. Setelah beberapa hari, sampah dalam lubang dapat di ambil untuk di jadikan
kompos.
DAFTAR
PUSTAKA
Otto Soemarwoto (2001). Ekologi Lingkungan Hidup dan Pembangunan. Jakarta : Djambatan.
Pusat pengelolaan ekoregion sumatera (2010). Suara bumi “Mari selamatkan bumi”.
Pekanbaru.
Pusat
pengelolaan ekoregion sumatera (2010). Suara
bumi “ ozon : payung bumiku berlubang”. Pekanbaru
Agus R. , Rudy S.(2008). Global warming “mengancam keselamatan planet bumi.
Artikel oleh
Haneda (2004). Hubungan efek Rumah Kaca
Pemanasan Global dan Perubahan Iklim.
Artikel
oleh Kelompok Kerja Pemanasan Global dari Para Promotor KPKC, Roma (2002). Pemanasan Global dan Perubahan
iklim.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar